Kemari saya membaca berita di koran Sindo, seorang remaja putri (15 tahun) menggugurkan kandungannya karena takut DO. Kejadian-kejadian semacam ini sudah sering terjadi dan kita dengar, kita baca dan kita lihat di berbagai media masa. Bukan hal yang baru. Banyak agamawan dan tokoh-tokoh masyarakat membahas dan menyerukan agar masyarakat memperbaiki moral, terutama moral generasi muda yang sudah memprihatinkan : ada pergeseran nilai moral atau norma-norma moral sudah tidak diperhatikan lagi ? Norma tata kelakuan dianggap sudah ketinggalan zaman, basi, dan menghambat kebebasan kaum muda yang memang tidak suka kemapanan.
Tidak semua generasi muda berkelakuan demikian, bahkan lebih banyak generasi muda yang dapat diandalkan. Banyak berita dan terjadi di sekitar kita, kaum muda yang berhasil di berbagai bidang kehidupan. Kaum muda yang demikian mampu melihat kehidupannya sekarang adalah dasar untuk membangun masa depannya. Namun sebagian besar perilaku menyimpang dilakukan oleh generasi muda. Perilaku yang paling digemari antara lain perilaku seks di luar ikatan perkawinan, atau yang sering disebut perilaku seks menyimpang. Contoh yang jelas adalah maraknya peredaran gambar dan film porno, sesuai dengan hasil survey yang telah dilakukan oleh Soni Ady Setiawan (mahasiswa dari Yogyakarta), dan pernah ditayangkan di MetroTV dalam Kickandy, Kamis, 30 Agustus 2007 yang ternyata dari 500 lebih film porno yang beredar, 90 % di antaranya dibuat oleh pelajar dan mahasiswa.
Bagaimana pengendalian perilaku menyimpang ini bisa efektif ? Media sosialisasi keluarga, pendidikan dan lingkungan keagamaan telah melakukan yang terbaik, menanamkan nilai-nilai dan norma sosial yang memang telah dan masih berlaku di masyarakat. Namun lingkungan pergaulan dan media massa yang cepat diperoleh seseorang memberikan nilai-nilai yang berbeda. Sosialisasi yang tidak sempurna inilah yang membuat seseorang berperilaku menyimpang.
Suatu saat, waktu saya masih duduk di semester I di perguruan tinggi, Ibu saya pulang dari kondangan. Anak temannya menikah. Pasangan pengantin “terpaksa” menikah meskipum belum menyelesaikan pendidikannya, karena pengantin wanita telah hamil 5 bulan. “Sus,” kata ibu saya, “Hati seorang ibu yang paling sakit adalah apabila menyaksikan putrinya menikah pada saat ia tidak siap untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu.” Ibu saya tidak memberi nasehat yang macam-macam, yang kadang bagi seorang remaja membuat merah telinga, merasa tidak dipercaya, dicurigai. Hanya satu kalimat itu yang saya bawa sampai akhirnya saya menemukan jodoh, menikah dan satu tahun lebih satu minggu kemudian kami dikaruniai seorang putra.
Sosialisasi primer di lingkungan keluarga sangat penting. Keluarga yang melibatkan anak dalam proses sosialisasi akan mampu mendorong anak untuk mandiri, bertanggung jawab, percaya diri, mampu mengambil keputusan dan hidup dalam suasana penuh kasih sayang. Sementara keluarga yang otoriter akan menghasilkan sikap dan perilaku anak yang sebaliknya. Jadi dasar sosialisasi penting untuk membentuk kepribadian seseorang. Dengan demikian seorang anak mampu memilih hendak berada di kelompok mana yang sesuai dengan peran yang diharapkannya.
.gif)
