Posted by: yustinasusi | April 16, 2008

Salah Sangka

Ada satu hal yang menyentuh setiap ingat peristiwa ini. Pada saat aku mengikuti program KKN di salah satu desa di daerah Gunung Kidul, suatu hari aku menyempatkan diri pulang ke rumah. Dengan penuh suka cita aku naik bis jurusan Yogya.

Sumpah aku jarang-jarang naik kendaraan umum. Maka sikap curiga, phobia karena sering membaca kasus-kasus kriminal yang terjadi di kendaraan umum membuat aku siaga dan pasang antena …. siapa tahu menangkap sinyal tanda-tanda akan terjadi peristiwa kejahatan.

Kebetulan aku tidak dapat tempat duduk. Capek juga berdiri, sementara bis berbelok-belok menuruni bukit. Di bagian depan seorang ibu memangku anak perempuannya yang terlelap, tidak peduli akan goncangan yang ditimbulkan oleh bis. Di dekat jendela tampak seorang gadis -sepertinya mau berangkat kuliah- memeluk erat tas yang berada di pangkuannya. Beberapa orang pemuda berpakaian rapi sedang ngobrol seru, sambil sesekali tertawa. Yang lain tertidur atau pura-pura tidur, karena siang semakin pengap dalam bis tanpa AC. Di mana kepedulian sosial para pemuda ini, melihat beberapa orang wanita, termasuk aku, berdiri bergelantungan di samping mereka.

Mataku tertuju pada seorang pemuda yang terlihat mencurigakan. Sesekali tengok kanan kiri. Menegakkan tubuh, memandang jauh ke depan. Kuperhatikan penampilannya : rambut ikal acak-acakan, memakai celana pendek (mungking dari celana panjan jeans yang dipotong sebatas lutut), dan hanya pakai rompi jeans yang lusuh. Di lengan kanan beberapa tato dengan gambar aneh …. tampaknya memang orang aneh. Aku langsung waspada terhadap orang ini. Jangan-jangan ia punya niat yang tidak baik.

Tiba-tiba saja orang itu berdiri dan menatap ke arahku.

“Silahkan, mbak !” katanya sambil menunjuk bekas tempat duduknya.

Sesaat aku kaget, “Makasih” jawabku. Dalam hatiku, aku masih mencurigai niatnya. Tak urung aku duduk juga di tempat kosong itu.

Orang itu masih berdiri di sampingku. Rasa kantuk yang tadi mulai menyerang mendadak hilang. Aku takut akan terjadi sesuatu, maka aku duduk tegak, waspada, dengan memeluk tasku, sementara kaki sedikit keluar siap-siap mengirimkan tendangan apabila orang itu berbuat nekad.

Beberapa lama kemudian orang itu bergerak maju, “Nyuwun sewu bu, kula badhe mandhap mriki.” katanya dengan bahasa Jawa halus, permisi mumpang lewat pada seorang ibu di depannya. Akhirnya ia turun dari bis.

Rupanya orang yang kukira preman yang mau nyopet itu lebih punya jiwa sosial dari pada para pemuda berpakaian rapi tadi. Ternyata aku salah sangka.


Responses

  1. hehehe…..itulah….kadang penampilan sering menipu…. :)


Leave a response

Your response:

Categories