Posted by: yustinasusi | June 2, 2008

SAKIT MATA

Tiga minggu yang lalu keluarga kami mengalami musibah : sakit mata ! Duh, menyakitkan sekali. Sakit matanya sih …. ada obatnya. Tapi sakit karena hubungan sosial kita jadi terbatas itu yang membuat kita sakit : ibaratnya sakit mata turun ke hati.

Anak kami yang pertama kali terkena, karena ia memang punya teman dekat yang sedang sakit mata. Kemudian aku kena giliran berikutnya. Pembantuku mendapatkan estafet kemudian, dan terakhir suamiku tercinta ketiban bel juga ! Sudahlah terpaksa setelah anakku dikarantina sehari, ibunya menyusul. Akhirnya 3 hari aku cuti kerja … dari pada teman-teman dan anak muridku terkena musibah yang sama.

Anakku berangsur-angsur pulih (dia hanya menanggung sakit 2 hari), namun tetap kami karantina, tidak boleh keluar rumah, karena pasti masih belum ada orang yang mau dekat-dekat. Kan kasihan anak yang masih kecil dijauhi teman-temannya. Padahal ia anak 4 tahun 5 bulan yang gaul, tidak suka main sendiri. Beruntung ia mau dinasehati, jangan keluar rumah karena sakit mata. a mau memahami ini. Yang menyakitkan, pada saat ada tetangga yang berniat datang ke rumah (dengan maksud mau pinjam tikar), baru sampai pagar depan rumah sudah diteriaki tetanggaku yang lain, “Bu … jangan ke situ ! Nanti ketularan!”

Kami yang ada di dalam rumah cengengesan mendengar peringatan tersebut. Anakku lah penghubung kami semua, ia mengeluarkan tikar dari dalam rumah. “Saya sudah sembuh, tapi belum boleh keluar,” katanya. Ia pula yang kami minta pergi ke warung : beli telur, kerupuk, bumbu masak. Untunglah warungnya dekat, selisih satu rumah. Beruntung persediaan sayuran kami cukup, jadi tidak kelaparan.

Setiap penyakit ada obatnya, begitu kata pepatah. Akhirnya masa karantina selesai, dan kami mulai bergabung dengan kelompok tetangga. Masih saja ada tetangga yang melengos ogah bertatap muka. Doa kami jangan sampai ada yang mengalami penderitaan seperti kami. Tapi jika kami menerima perlakuan yang kurang mengenakkan hati, kadang doa yang buruk justru malah terucap : mudah-mudahan ketularan.

Suamiku pun merasakan hal yang sama. Sabtu sore, kegiatan rutin di RT kami adalah main voli. Pada saat suamiku bergabung ikut main, ia merasa yang lain menjaga jarak, sedapat mungkit tidak kontak fisik dan kontak mata. Hahaha … . kasihan deh suamiku.

“Sedih juga ya, bu. Kita jadi gak bisa ke mana-mana,” katanya.

Menurutku, kami harus refleksi. Justru dengan mengalami sakit ini, kita yang setiap hari menghadapi rutinitas kerja, bertemu dengan orang banyak, membuat kita kurang merenung, koreksi diri, mengingat-ingat hal-hal dan kesalahan yang sudah kita lakukan, dan menyusun strategi untuk memperbaikinya. Karena kita tidak bertemu orang lain, pikiran kita tidak tercampur dengan opini orang lain, membuat kita lebih fokus pada perencanaan masa depan, baik jangka panjang maupun pendek.

Manfaat positifnya, aku dan suami bisa punya waktu untuk ngobrol. Karena “libur” yang sekarang jelas beda dengan libur week end. Kita terpaksa di rumah, hanya berkomunikasi dengan orang serumah saja. Waktu libur biasa kita habiskan dengan berbagai kegiatan di luar rumah. “Libur” kali ini benar-benar efektif : mengoptimalkan waktu bersama anak dan meningkatkan kualitas hubungan antaranggota keluarga.

Sakit yang bermanfaat. 

    

 


Leave a response

Your response:

Categories