Posted by: yustinasusi | September 18, 2008

Beli di Abang-abang

Punya anak satu sering tak tahan godaan untuk membeli sesuatu, dalam rangka oleh-oleh, hadiah, karena kesukaan anak, untuk “menyuap” agar tak marah, atau ibunya sendiri yang pingin beli-beli.

Salah satu benda milik Derick yang sering rusak (tidak pernah hilang) adalah sandal jepit (untuk seterusnya disebut sandal, karena tidak ada yang lain). Jika ia punya lebih dari satu sandal, maka sandal yang ia sukailah yang terus dipakai, hingga sandal yang di-anaktiri-kan meski masih baru (atau tampak baru) jadi kotor berdebu di rak sepatu, atau di teras, atau bahkan di samping rumah dekat kumpulan pot bunga.

Pernah sandal favoritnya jatuh ke dalam got. Ia ngotot minta diambilkan. Karena melihat perilaku orang dewasa mengambil sandal yang jatuh ke dalam got menggunakan cara yang sama, yaitu menggunakan pengki, maka akhirnya ia memiliki inisiatif sendiri agar tidak merepotkan orang lain, apalagi agar tidak diomeli atau dimarahi, ia gunakan pengki tersebut untuk mengambil apa saja harta miliknya yang masuk ke dalam got : bola, mainan, daun, dan tentu saja sandalnya sendiri.

Sandal Derick rusak pada umumnya karena ia gunakan untuk mengerem sepeda. Ia mahir mengendarai sepeda roda 2 sejak umur 3 tahun. Tetapi rem selalu rusak karena ia memarkir sepedanya dengan cara di banting. Hasilnya sandal mulai yang harganya 3 ribu rupiah sampai 45 ribu rupiah nasibnya akan berakhir sama.

Suatu saat ia nekad naik sepeda dari atas tanjakan jalan. Karena jalannya turun, maka makin lama kecepatan sepeda bertambah. Untuk mengendalikan sepeda, Derick tetap menggunakan cara tradisional, yaitu rem pakai kaki. Karena sandalnya sudah aus bagian depan, akhirnya jempol pun jadi korban. Terpaksa ia meringis kesakitan, tidak mau nangis karena takut diobati.

Terakhir sandal Derick lepas talinya. Karena hanya punya satu, akhirnya saya mencegat abang-abang yang sering lewat depan rumah untuk membeli sandal pengganti, meski saya tahu pasti tak awet usianya, sehubungan dengan hobinya yang menggunakan sandal sebagai rem sepeda. Melihat Derick menerima sandal itu, saya lega. Untung tidak minta sandal dengan gambar favoritnya : Spiderman. Karena itu pasti harus ke mall atau ke swalayan. Gak mungkin dong bagi saya, … ke swalayan atau ke mall hanya untuk beli sandal saja. Soalnya lumayan jauh dan males …

Derick punya sahabat kecil depan rumah, gadis cantik yang usianya sebaya. Tita namanya. Tita memang sering ke mall, dan mengkoleksi sandal. Bagi anak cewek, banyak pilihan model dan warna. Dan Tita menyukai semuanya, tidak pilih-pilih seperti Derick.

Suatu sore, sesudah membelikan sandal Derick di abang-abang, saya lihat sandalnya baru. “Tita sandalnya baru, ya !!” tegur saya.

“Iya! Bagus ya, Budhe ?”

“Bagus sekali. Beli di mana ?”

“Di mall,” jawabnya ceria. “Derick sandalnya baru juga ya ?” lanjutnya pada Derick, yang ada di samping saya.

“Iya, dong !”

“Beli di mana ?”

“Di abang-abang !” jawab Derick bangga.

Anak kecil memang tidak suka jaga gengsi.


Leave a response

Your response:

Categories